Wednesday, August 18, 2004

Arti Sebuah Liontin

Pemandangan matahari terbenam di pantai sungguh indah. Laut terbentang begitu luas hingga berakhir di sebuah garis horizontal dengan latar langit dan matahari yang berwarna kejingga-jinggaan. Matahari itu turun perlahan-lahan sehingga seolah-olah ia berusaha membagi sinarnya secara merata ke seluruh dunia. Banyak kapal-kapal layar yang berlabuh di dermaga serta burung-burung camar yang lalu-lalang di langit sambil sesekali turun ke permukaan laut bila ada ikan kecil yang pantas untuk disantap, serta beberapa remaja laki-laki yang berselancar yang pamer di hadapan remaja perempuan. Mereka memang berselancar seperti ahlinya, berenang di atas papan selancar sesekali, lalu mulai berselancar mencari-cari datangnya gulungan ombak besar, menerpanya dan seolah-olah telah ditaklukannya oleh mereka. Terlihat pula banyak orang dewasa yang berjemur di pantai dan beberapa duduk-duduk di bawah perlindungan payung pantai dan anak-anak kecil yang bermain istana pasir ataupun bermain-main dengan ombak-ombak kecil di pinggiran pantai.


Namun ada sebuah pemandangan yang membuatku tak mampu memalingkan mata jauh-jauh darinya. Semuanya nampak terlalu indah bagi mataku yang biasa-biasa saja ini. Bagaikan untaian mutiara yang bertebaran, rambut pirang gadis itu tergerai lepas berkibaran memikat begitu banyak pesona. Sudah sedari tadi aku memandanginya, tanpa perduli apakah ia akan memperhatikan hal ini atau pun tidak. Gadis itu terus saja aktif bermain volley pantai bersama teman-temannya. Ia mengenakan bikini warna pink dengan celana pendek ~benar-benar pendek maksudku~ kotak-kotak warna biru muda, sebuah topi golf berwarna putih polos dipasang di kepalanya, seolah-olah seperti rambutnya yang indah itu dimahkotai. Tapi ada sesuatu yang berkilauan di lehernya yang tidak bisa kutangkap sedari tadi. Aku yakin kalau itu hanyalah sebuah liontin kalung yang tergantung pada sepilin rantai emas putih yang melingkar di lehernya, tapi aku begitu ingin tahunya akan bentuk liontin macam apa yang digunakannya itu.


Aku adalah seorang pengrajin perhiasan yang sudah 5 tahun berkecimpung di bidang ini. Jadi, segala seluk beluk kerajinan perhiasan atau yang lebih tepat disebut metal, sudah kuketahui semuanya. Menurut mitos, dari bentuk liontin kalung yang dipakai oleh seseorang dapat diketahui bagaimana statusnya. Oleh karena itu aku penasaran dengan bentuk liontin apa yang yang digantungkan di kalung gadis itu. Aku mengharapkan liontin yang dipakainya menggambarkan bahwa ia masih sendiri, jadi aku dapat memberanikan diri untuk mengajaknya berkenalan. Kalau kuketahui bahwa ia sudah dalam status hubungan tertentu dengan pria lain, rasanya malas sekali untuk berkenalan. Aku tidak mau harus berjuang keras untuk dapat menemuinya hanya karena ia sudah mempunyai seorang kekasih yang menjaganya setiap saat.


Ketika sudah cukup lama kuperhatikan ia melakukan kegiatan yang menurutku membosankan itu, akhirnya ia berhenti juga, karena kelelahan mungkin. Aku tak berani memungkiri kenyataan, bahwa ia nampak semakin seksi dan sensual di saat cahaya matahari terik memantul di tubuhnya yang bermandikan keringat itu. Perlahan-lahan tanpa sadar, aku sudah memandangi wajahnya lekat-lekat. Matanya amat tajam dan sedikit disipitkan saat ia mengarahkannya ke arah silaunya langit sore ketika ia meminum air mineral dari botol. Kuperhatikan tegukan-tegukan itu melewati lehernya yang bergerak membentuk gelombang berirama. Bibirnya nampak pucat awalnya karena telah kehilangan banyak cairan setelah ia berolahraga tadi, namun setelah minum warnanya perlahan-lahan berubah menjadi segar. Sedikit kebasah-basahan, merekah bagai bunga mekar dan mengundang selera setiap orang yang memandangnya.


Cepat-cepat aku tersadar dari buaian itu, dengan cepat mataku mencari-cari liontin kalungnya. Dan kutemukan di tempat yang biasa seharusnya terletak, tapi sayangnya jaraknya terlalu jauh dari sini dan ukuran liontin itu amat kecil sekali. Maka kusipitkan mataku untuk mempertajam fokus penglihatanku, hanya untuk liontin kalung gadis itu. Sial, masih belum jelas, yang baru dapat kutangkap hanyalah bentuknya yang agak membulat, tapi masih belum dapat kutentukan apakah bentuk sesungguhnya. Otakku kupaksa untuk berpikir lebih cepat dari biasanya, memikirkan cara yang lebih baik. Sebuah ide bodoh muncul di kepalaku, yaitu mencari tempat untuk melihatnya dengan lebih dekat lagi. Tapi setelah kupikir-pikir, hanya itulah satu-satunya cara, kecuali apabila aku memiliki teropong untuk dapat membuatnya menjadi nampak dekat.


Aku pun lalu berjalan-jalan sepanjang batas pantai yang berbatasan dengan air laut yang pasang, sesekali kumainkan kakiku ke dalam percikan air, membiarkan kakiku terbasahi. Aku terus berjalan mendekati tempat duduk gadis itu. Cukup jauh juga rupanya dari tempatku memandanginya tadi. Akhirnya dengan sedikit kenekatan, aku tepat berada di depan payung pantai milik gadis itu dan teman-temannya, berpura-pura memainkan air dengan kakiku dengan mengarahkan pandangan ke arah batas garis horizontal ujung lautan sambil sesekali mencuri pandang ke arah liontin gadis itu. Aku kurang memperhatikan juga, apakah jangan-jangan nanti ada salah seorang dari temannya yang mengetahui bahwa aku hanya berpura-pura di sini dan terus mencuri pandang ke arah gadis itu. Tapi yang sangat kuyakini adalah bahwa gadis itu sedari tadi tidak sekalipun pandangannya terarah padaku.


Senyuman puas kuperjelas di wajahku ketika akhirnya aku mengetahui bentuk liontin kalung gadis itu. Bentuknya unik bagiku karena belum pernah kulihat sekalipun, mungkin ia mendapatkannya dari luar negeri. Seperti bola kristal berwarna biru laut bening yang dikelilingi oleh 2 ekor lumba-lumba warna perak. Cantik sekali, apalagi setelah dikenakan oleh gadis itu. Sayangnya aku menjadi kebingungan bagaimana menginterpretasikan bentuk itu dengan tepatnya karena yang kuketahui adalah bahwa yang berbentuk bulatan atau bola kristal seperti itu biasanya menggambarkan bahwa ia masih sendiri, sedangkan lumba-lumba dan hewan lainnya menggambarkan bahwa ia sudah memiliki pasangan. Aku menjadi semakin cemas, apalagi setelah kuperhatikan bahwa lumba-lumba itu ada 2 ekor, karena biasanya segala sesuatu yang bersifat ganda menandakan bahwa ia sudah memiliki pasangan.


Sungguhkah interpretasi bentuk liontin ini benar? Aku sendiri tidak tahu, tapi sudah banyak pemilik liontin yang membuat mitos penginterpretasi itu menjadi benar. Namun hingga saat ini belum ada mitos yang mengajarkan bagaimana cara menentukan mana yang lebih tepat apabila terdapat 2 bentuk dalam 1 liontin. Hal ini membuat jiwa pengecutku muncul menguasai keberanianku. Akhirnya aku tidak berani untuk mengajukan tanganku untuk berkenalan dengannya dan aku langsung kembali ke tempat dudukku semula dengan lesu. Aku termenung berbaring di atas handuk motif garis-garis yang terbentang di bawah payung pantai, hingga tak kusadari bahwa kini aku memandang sebuah pemandangan yang berbeda, yang jauh lebih romantis. Langit hitam penuh bintang kerlap-kerlip bertaburan di dalamnya dengan cahaya bulan purnama yang memberi terang di pantai ini selain lampu jalan yang ada jauh di atas sana. Suasana di sekitarku pun ternyata sudah sangat tenang, hanya desiran ombak kecil yang menghapus pasir dan suara tiupan angin malam yang menggoyangkan daun-daun pohon-pohon di pantai yang terdengar. Pikiranku yang kalut pun perlahan-lahan menjadi tenang dan menghanyutkan.


Tiba-tiba terlintas gagasan cemerlang di kepalaku dan tanpa pikir panjang, aku langsung merapikan handuk yang kutiduri tadi dan menutup kembali payung pantai yang masih kubiarkan terbuka. Segera kuberlari membawa semua perlengkapan itu ke pondok kecil di ujung sana, itulah tempat tinggalku. Kulemparkan begitu saja barang-barang yang kubawa tadi ke dalam pondok, tanpa memperhatikan apa-apa lagi dan segera berlari ke jalanan beraspal abu-abu yang hanya disinari oleh lampu jalan yang berjejer mengikuti sepanjang jalan dengan jarak tertentu. Aku berlari hanya dengan bermodalkan selop beralaskan tatami dan celana pendek, sehari-hari aku juga biasanya hanya berpakaian seperti ini dengan kemeja hawaiian yang tak pernah kukancing.


Sampailah aku di perkotaan, di daerah pertokoan, di mana ada sebuah toko perhiasan tempat aku bekerja biasanya. Kulihat toko itu masih menyala lampunya, maka kuputuskan untuk mengetuk pintunya walaupun sudah tertera tanda TUTUP di pintunya. Akhirnya ada yang membukakan pintu setelah beberapa kali kuketuk pintu kaca itu. Pemilik toko, yang lebih tepatnya adalah bosku, membukakan pintu sambil mengomel-ngomel karena aku telah mengganggu waktu istirahatnya. Aku meminta maaf dengan senyum yang kupamerkan untuk meluluhkan hatinya dan segera setelah ia menyerah, aku langsung menanyakan bagaimana cara menginterpretasikan liontin yang terdiri dari 2 bentuk itu. Kemudian aku menjelaskan secara mendetail ~bahkan sampai kugambarkan di kertas~ bentuk liontin kalung gadis itu. Bosku nampak tidak terkejut mendengar kata-kataku barusan, ia tidak nampak panik seperti diriku.


Ia tidak langsung menjelaskannya, ia malah menyuruhku duduk dan mengambilkanku sebotol bir dingin dari ruangan dalam. Kami terdiam untuk sesaat sambil menikmati dinginnya bir yang merasuki tenggorokan kami yang kering di malam yang hangat itu. Aku tidak berani untuk memulai kembali percakapan, tapi tanpa diminta tiba-tiba ia dengan sendirinya yang memulai percakapan. Ia sedikit menggodaku dengan mengatakan apakah aku tertarik dengan gadis itu dan aku hanya dapat tersenyum malu menanggapinya. Kemudian ia pun mulai menjelaskan, tapi aku tidak yakin apakah benar ucapannya itu atau hanya berdasarkan logika semata. Ia mengatakan bahwa liontin itu menggambarkan bahwa gadis itu sekarang ini sedang sendiri tapi tak lama lagi akan memperoleh seorang pasangan. Mendengar ucapannya, hatiku langsung menjadi semakin menciut, berarti semakin kecil harapanku untuk dapat mengenalnya. Aku kembali pulang ke pondokku dengan keadaan lesu.


Keesokkan harinya, aku hanya duduk-duduk di tempat yang sama seperti kemarin, melakukan kegiatan yang sama seperti kemarin. Hari ini aku tidak menemukan keberadaan gadis itu di pantai, maka semakin pupuslah harapanku. Aku tidak sesemangat kemarin, hari ini aku hanya berbaring di handukku sambil mengamati orang-orang dan meminum bir dingin. Lama-lama aku menjadi bosan sendiri karena tidak menemukan objek yang menarik untuk diamati. Benarkah ini? Atau hanya aku saja yang naif? Mungkin hanya karena aku sedang tertarik dengan gadis itu, sehingga tidak ada objek lain yang kuanggap lebih atau cukup menarik darinya. Tapi yang jelas hari itu menjadi hari yang menjemukan bagiku, maka kuputuskan untuk berlayar. Aku mengemas kembali barang-barangku dan membawanya ke pondokku kembali. Keluar dari pondok, aku menggotong sebuah layar yang masih terlipat dan sebuah kapal ramping dan kecil.


Di luar aku segera merakitnya dan langsung membawanya ke perairan untuk segera berlayar. Udara laut pagi hari yang sejuk dan panas menggoda menerpa wajahku yang masih sedikit mengantuk. Aku membawa kapalku hingga ke tengah lautan, hingga aku tidak dapat memperhatikan orang-orang yang ada di pantai. Di sana keadaannya sama seperti kemarin malam, begitu tenang namun segar. Aku berbaring di atas perahu kecil itu, memandangi langit biru yang begitu luas dengan awan-awan putih menggumpal yang menghiasinya. Matahari begitu terik, cahayanya menerobos lubang-lubang yang terbentuk di sela-sela awan. Burung-burung camar tetap terus beterbangan tanpa henti dan tanpa memperdulikan waktu terus mencari makan.


Tiba-tiba ketenanganku itu terasa terganggu oleh segerombolan remaja iseng yang sedang menyelam yang memukul-mukul dasar kapalku. Karena sebal, apalagi karena perasaanku sedang tidak baik, maka aku langsung melompat ke laut dan mencari siapakah gerangan yang sudah merusak kesenanganku barusan. Kutemukan beberapa remaja pria dan remaja perempuan yang menggerombol di dekat dasar kapalku. Aku cukup terkejut karena menemukan sebuah pemandangan yang sudah kucari-cari sedari tadi. Ternyata mereka adalah gerombolah teman-teman gadis yang kemarin dan tentu saja gadis itu ada di antara mereka. Gembira bukan main aku berada di bawah permukaan air laut sana, tapi sayangnya aku tidak bisa berlama-lama di dalam sana karena dengan cepat aku kehabisan udara untuk bernafas, berbeda dengan mereka yang menggunakan snorkling atau alat pernafasan untuk menyelam. Aku segera naik kembali, mengeluarkan kepalaku ke atas permukaan air laut yang tenang dan bening, cepat-cepat aku mengambil nafas dan kembali menyelam lagi. Saat kedua kalinya aku membenamkan kepalaku ke air, gadis itu kini memandang ke arahku dan memberi isyarat dengan tangannya untuk naik ke permukaan dan tentu saja aku menuruti isyaratnya itu.


Kemudian ia berkata bahwa ia merasa lelah dan meminta izinku, apakah ia boleh naik ke atas kapalku yang jawabannya sudah pasti BOLEH olehku. Sungguh kesempatan emas bagiku dapat berkenalan dan sekaligus mengobrol dengannya. Tiba-tiba tanpa kusadari, keluar juga pertanyaan kramat itu dari mulutku. Aku bertanya apakah ia sudah memiliki kekasih atau belum. Ia tersenyum geli melihat wajahku yang kemudian benar-benar menunjukkan bahwa aku malu menanyakannya. Tapi kemudian perasaan lega menggelutiku, lega atas jawaban yang telah diberikannya, bahwa ia belum mempunyai pasangan. Namun perasaan tidak senang akan kenyataan bahwa ia sedang mencari pasangan hidup membuatku menjadi kesal dan agak marah, padahal aku baru saja mengenalnya saat itu juga.


Dan hari ini di tepi pantai biasanya keramaian orang-orang ada, dipenuhi oleh keramaian yang lain. Sama seperti saat aku pertama kali melihatnya, saat matahari terbenam, dengan kesejukan angin laut, kini aku melihatnya lagi, dibalut oleh gaun putih yang begitu indah, memandang tersenyum padaku yang sedang tegang memandang ke rangkaian tanaman jalar yang membentuk seperti pintu yang tepat di depannya terdapat sebuah meja tinggi dengan seorang pria tua mengenakan jubah putih dengan salib besar di tengahnya.


The End

0 Comments:

Post a Comment

<< Home